Tiga orang perempuan sedang dalam perjalanan naik pesawat terbang. Setengah jam setelah mengudara, pilot mengumumkan adanya gangguan dan para penumpang diminta untuk mempersiapkan diri karena pesawat akan mendarat darurat.

Perempuan pertama segera memakai semua perhiasannya, mulai dari kalung, gelang, cincin dan giwang.Dengan pandangan tak mengerti kedua perempuan yang lainnya bertanya apa maksud dari tindakannya tersebut. “Dengan memakai semua perhiasan ini semua orang akan tahu kalau aku kaya. Jadi mereka akan menolongku lebih dulu,” jawabnya.

Perempuan kedua segera membuka blus dan branya. Ketika yang lain bertanya,ia menjawab, “Ketika regu penolong datang, mereka akan langsung melihat betapa seksinya dadaku dan aku akan ditolong lebih dulu.”

Perempuan ketiga yang kebetulan berkulit sangat hitam melepaskan celana luar dan dalamnya. Kemudian ia berkata, “Biasanya sih orang-orang akan mencari kotak hitam lebih dulu.”

Sehari-hari Minah pergi ke sungai mencuci baju, suatu hari ketika baru saja memulai mencuci, dilihatnya seekor ikan terjepit di antara bebatuan dan menggelepar-gelepar. Begitu melihat, Minah menghampirinya, dan si ikan berkata, “Kalau kamu menolongku, aku akan mengabulkan tiga permintaanmu. Tapi ingat, apa yang kamu minta membuat suamimu mendapatkan sepuluh kali lipat dari apa yang kamu minta.”

Minah pun menolong ikan tersebut dan minta supaya wajahnya diubah menjadi cantik. “Tapi ingat …suamimu akan menjadi paling tampan di dunia,” kata ikan mengingatkan.
“Nggak masalah,” jawab Minah. Abrakadabra? jadilah Minah wanita yang amat cantik, begitu juga suaminya menjadi amat-sangat tampan.

Permintaan kedua, Minah ingin menjadi kaya, “Ingat, suamimu akan sepuluh kali lebih kaya, apa kamu tidak takut” kata ikan.
“Ah, nggak apa-apa. Miliknya kan milikku juga,” jawab Minah. ‘Abrakadabra?’ jadilah Minah orang yang kaya. Begitu juga suaminnya 10 kali lipat kekayaannya dari Minah.

“Lalu permintaanmu yang ketiga apa?,” tanya ikan.
“Aku ingin mendapatkan serangan jantung ringan-ringan saja”.
“Abrakadabra……….???


Orang Jepang, orang Malaysia, dan orang Indonesia bersama naik sebuah kapal. Ternyata ditengah perjalanan terjadi badai dan kapal oleng karena terlalu banyak beban. Sang nahkoda memerintahkan para penumpang untuk membuang barang bawaan yang kurang berharga.

Orang Jepang membuang TV, hi-fi, dan aneka peralatan elektronik canggih. Orang Indonesia dan Malaysia hanya menggelengkan kepala “sayang sekali padahal itu mahal”. Kata si Jepang “oh yang seperti itu di negara saya ada banyak, jadi tidak berharga”.

Kemudian orang Indonesia membuang batik, arca, dan barang-barang seni lainnya. Ganti orang Jepang dan Malaysia yang menggelengkan kepala “sayang sekali padahal itu bernilai seni tinggi”. Kata orang Indonesia “oh yang seperti itu di negara saya ada banyak, jadi tidak berharga”.

Kapal masih oleng, dan si Malaysia tidak memiliki barang bawaan. Akhirnya dia melemparkan orang Indonesia ke laut. Si Jepang berteriak “Hei, apa yang kamu lakukan?”. Si Malaysia dengan tenang menjawab : “Oh yang seperti itu di negara saya ada banyak”.

Di lorong sempit di tengah kota nampak 2 pengemis sedang asyik ngobrol.
Pengemis 1: seharian kita mengemis, kok ya ga bisa buat beli mobil ya ? eh ngomongin soal orang kaya, gue ini sebenarnya keturunan orang kaya, harta peninggalan keluarga kami nggak akan habis dimakan tujuh keturunan! .
Pengemis 2: Lha trus kenapa elo jadi kere dan ngemis kaya gini? .
Pengemis 1: Gue keturunan kedelapan.

Ada 3 anggota Pecinta Alam yg hobinya naik turun gunung & pembual banget.
Mereka saling menyombongkan diri tentang pengalaman mereka menaklukkan gunung tertinggi.

A: Gw pernah naikin gunung yg kalo dr puncak di jatuhin koin di pagi hari, malamnya koin tersebut baru nyampe dasar.

B: Aaah..itu sih ga’ seberapa. Gw malah pernah naikin gunung yg kalo dr puncak di jatuhin koin di hari senin, minggu depannya koin tersebut baru nyampe dasar.

C: Kalian belum ada apa2nya dibandingkan dgn saya. Saya pernah naikin gunung yg kalo dr puncak sampeyan jatuhin bayi, begitu sampe dasar, bayi tersebut sudah menjadi manula.